Manusia Gerobak

http://dewantorobimo.wordpress.com/2010/08/31/manusia-gerobak/

Sabtu malam yang lalu, waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB saat saya melintas di Jalan Fatmawati, salah satu ruas jalan protokol di Jakarta Selatan. Hmm, ada pemandangan yang tak biasa di sepanjang trotoar di kiri jalan. Di sana nampak deretan gerobak-gerobak kumuh yang di dalamnya diisi untuk tidur oleh pemiliknya. Mereka inilah yang sering dipanggil orang-orang sebagai ‘manusia gerobak’.

Profesi mereka sebenarnya adalah pemulung yang sehari-hari mengais rongsokan, botol plastik, kardus, dan segala macam barang bekas lain yang masih bisa dimanfaatkan. Gerobak yang mereka dorong ini berfungsi ganda, selain sebagai tempat untuk mewadahi hasil buruannya juga sebagai pengangkut sekaligus tempat tidur keluarganya. Dan di malam hari, gerobak berlapis seng dan berukuran 2 x 1 meter ini juga yang menjadi rumah mereka.

Di malam bulan Ramadhan, gerobak-gerobak ini mudah ditemui di jalanan. Sesuatu yang tidak umum dijumpai di luar bulan Ramadhan. Setiap tahun menjelang dan pada saat bulan puasa, ribuan pengemis dan pemulung dari kota sekitar Jakarta memang memasuki kota Jakarta berharap tetesan sedekah dari umat Muslim yang sedang berlomba-lomba memperbanyak amal ibadahnya. Rasanya tidak salah kalau mereka juga ikut merasakan berkah Ramadhan kan?

Setiap malam, gerobak-gerobak ini sudah parkir berjajar di pinggir Jalan Fatmawati mengetuk hati pengendara yang sedang melintas. Selain itu, sedekah dari kegiatan pembagian sahur atau sahur on the road yang dilakukan berbagai kalangan menjadi harapan untuk mendapat satu kotak nasi berlauk pauk lengkap. Terkadang ada pula yang membagikan bingkisan atau uang, terutama menjelang hari raya Idul Fitri.

Dan di malam itu, deretan gerobak ini bisa ditemukan hanya dalam selang jarak tidak lebih dari 15 meter. Jalan Fatmawati yang saat siang hari hiruk pikuk oleh aktivitas bisnis, saat ini ramai oleh gerobak pemulung. Pemilik gerobak yang biasanya terdiri dari seorang lelaki beserta istri dan satu atau dua orang anaknya, nampak tidur meringkuk di dalam gerobak. Bahkan demi mengharap belas kasihan pengendara yang lewat, tidak sedikit yang menidurkan bayi dan anaknya di atas trotoar hanya beralaskan koran dan kardus seadanya. Terpaan angin malam dan kebulan asap knalpot kendaraan di depan muka mereka menjadi santapan sehari-hari yang harus siap diterima.

Kemiskinan ekonomi telah membuat satu golongan masyarakat ini harus melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Salah satu cara yang dipandang halal adalah melalui profesi memulung ini. Dengan berbagai alasan banyak orangtua yang mengajak anak-anaknya ikut mengais rejeki di jalanan.

Konsekuensi yang harus ditanggung adalah bayi dan anak-anak itu musti bertahan dari kekejaman fisik, mental dan psikis yang ditawarkan oleh lingkungan jalanan. Dan jika ada akibat langsung berupa belas kasihan orang karena melihat bayi dan anak ini, semoga tidak menjadi alasan utama mengapa anak-anak mereka harus diajak untuk mencari kehidupan di jalanan Jakarta. Dari sekian orang yang berprofesi di jalanan seperti joki 3in1, pengemis, atau pengamen yang saya temui selama ini, alasan utama para orangtua ini adalah karena tidak ada yang mengasuh anak mereka di rumah sebab mereka tidak punya keluarga lain di kota Jakarta.

Melihat para pemulung dan gerobaknya ini mengingatkan saya kembali kepada hakikat dari ibadah puasa. Untuk menahan diri dari hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, sebagian besar dari kita pasti sanggup. Tapi selepas azan Maghrib sikap berlebih-lebihan dalam berbuka puasa jamak ditemui di masyarakat. Bahkan acara buka puasa bersama yang diadakan instansi pemerintahan dan perkantoran dengan mengundang mitra-mitra kerjanya seakan menjadi ajang pamer kemewahan.

Dengan mengadakan acara di hotel berbintang atau restoran mewah berupa sajian makanan yang berlimpah ruah, serta diakhiri dengan pembagian doorprize dan souvenir, seakan mengaburkan makna ‘shiyam’ atau ‘menahan diri’. Padahal di balik gedung tinggi, restoran dan hotel ini, masih berdiri ribuan manusia gerobak serta kaum fakir lain yang rela mengorbankan anak, istri, keluarganya berjibaku di jalanan untuk mengharap satu bungkus nasi sederhana dari belas kasihan orang.

Ibadah puasa seharusnya mengajarkan umat untuk menahan diri dari segala nafsu batiniah. Tidak hanya dari pagi sampai malam, tapi sepanjang hari sampai 11 bulan mendatang. Bertolak dari sinilah setiap orang dapat berbagi empati, berbagi rasa, berbagi rejeki, dan berbagi syukur kepada mereka yang kekurangan.


Sambil berkendara saya melirik ke si kecil yang sedang tidur nyenyak di pangkuan ibunya. Alhamdulillah, Allah memberi nikmat dan rejeki-Nya sehingga anak saya tidak perlu merasakan dinginnya malam dan pekatnya asap knalpot di jalanan yang kejam ini. Semoga puasa ini mengajarkan kepada kami arti menahan diri yang sesungguhnya. Ah, sudah bertahun-tahun ibadah puasa saya jalani tapi esensi puasa ini masih sering saya abaikan…

*Foto ilustrasi dikopi dari http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=62958

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan Pinggir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s