Maaf dan Terima Kasih

Maaf…

Mumpung masih segar dalam ingatan, hal-hal yang saya alami tadi pagi seputar kata Maaf dan Terima Kasih.

Saat perjalan menuju tempat kerja, seseorang membuka kaca mobilnya dan bertanya kepada istri saya. Mbak,…kalau Cilandak Mall arah kemana ya? Lalu istri saya menjelaskan arah menuju lokasi dimaksud, kemudian si pemilik mobil langsung menutup kembali kaca mobil mewahnya.

Mengalami kisah seperti itu, saya jadi ingat beberapa waktu lalu, membaca disalah satu blog teman saya (dia tinggal di Bandung) yang mengatakan “Betapa orang Jakarta tidak mengenal sopan santun”. Pernyataan demikian sampai terucap karena pengalaman beliau beberapa kali ditanya orang tentang suatu alamat, tanpa basa-basi (hanya membuka jendela mobilnya dan tanpa kata Maaf di awal atau Terima Kasih pada bagian akhir). Kebetulan yang demikian itu selalu naik mobil dengan plat B (walaupun sebenarnya orang Bandung sendiri banyak yang memiliki mobil dengan plat B), secara otomatis kawan saya tadi memvonis orang Jakarta selalu demikian.

Kemudian mengingat kisah tadi pagi, saya jadi agak sependapat juga jadinya. Betapa memang kata Maaf dan Terima Kasih sangat mahal (tidak menjadi budaya yang melekat) bagi kita sekarang ini. Padahal, di negaranya Obama sana kata Maaf dan Terima Kasih itu sangat melekat di setiap pembicaraan mereka. Ya…walaupun itu hanya bisa saya amati pada film-film buatan mereka, karena saya sendiri belum pernah ke negaranya Obama tadi.

Kata-kata “maaf ” menurut pengamatan saya (tanpa selalu diikuti Terima Kasih), banyak juga diucapkan orang Indonesia paling tidak ini dilakukan oleh Mpok Minah pada tanyangan TV swasta (sinetron Bajay Bajuri). Namun penggunaan kata “maaf” oleh Mpok Minah malah terkesan pemborosan kata “maaf” karena setiap dia bicara paling tidak menggunaakan “kata maaf” tidak kurang dari 6 kali.

Kata-kata “Terima Kasih” di Indonesia malah sering di salah artikan menjadi “Terima Gaji” atau dikaitkan dengan “amplop berisi uang” . Apa lagi nih? Wah…pantas mahal ucapan terima kasih itu. Koq pakai lampiran segala…

Sementara kata “Terima Kasih” plus “senyum” sebenarnya tidak memakan biaya dan menguras tenaga tapi kata-kata tadi dapat membuat lawan bicara kita merasa dihargai dan dihormati. Apalagi “senyum itu adalah ibadah” (asalkan tidak senyum-senyum sendirian.

Penulis hanya dapat menghimbau agar kita mulai membiasakan diri dengan kata “Maaf dan Terima Kasih” tadi. Semoga…

Terima Kasih…(he..he..hampir lupa juga)

Terima kasih saya ucapkan bagi para pengunjung yang sudah meluangkan waktunya. Silahkan tinggalkan komentar Anda.

7 Komentar

Filed under Catatan Pinggir

7 responses to “Maaf dan Terima Kasih

  1. Ass. Betul sekali. Kita upayakan dari kita yuk

    wass.

  2. arpan SIREGAR

    Ya..Pak…
    harus dimulai dari diri sendiri neeh
    Terima Kasih,
    Bapak sudah mampir ke Blog Saya.
    Kalau ada saran dan masukan, silahkan Pak. Untuk perbaikan ke depannya.

    wass..

  3. Mardiyono

    Cukup menggembirakan, sebetulnya masih banyak teman-teman kita orang Indonesia yang mempunyai kesopanan yang tidak diragukan lagi,
    terus kirim yang up to date lagi dooooong.

  4. etik

    maaf pak saya mau comment juga nich…dan sebelumnya terimakasih sudah memuat cerita yang sangat menarik tentang bagaimana sikap sopan santun itu sangat penting sekali kita budayakan….karena dengan kita menghargai orang lain kita akan menerima timbal baliknya….semoga pak arfan bisa menampilkan lagi cerita yang menarik lainnya…terima kasih

    • arpan SIREGAR

      Ass.ww
      Terima kasih telah mampir dan memberi komentar disela-sela kesibukannya.
      Ya…memang demikian… mungkin karena orang sekarang ini banyak yang kejar tayang kali. Jadi gak sempat mengucapkannya…atau menganggap bahwa maaf-nya nanti aja sekalian lebaran he..he..

      Salam buat keluarga…
      Terima kasih

  5. abbas

    Hahaha..ternyata ada juga orang yang begitu telaten sekali memperhatikan olah bicara lawan bicaranya…bahkan tanpa rasa berdosa menghitung kata maaf dan terima kasihnya mpok minahnya bajaj bajuri..semoga dengan membaca dan merenungi goresan dan tarian jari jemari lentih di keypad dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa mengucapkan kata maaf dan terimakasih

    • arpan SIREGAR

      Terima kasih telah mampir di Blog Saya.
      Kalau ada tulisan yang ingin kita muat, silahkan Mas…
      Selamat bekerja…sukses selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s