Pengalamanku dalam Berdo’a kepada Allah SWT

Tulisan ini saya ambil dari Yusuf Mansyur Network di Facebook. Berharap semoga tulisan ini akan dibaca lebih banyak orang. Karena saya belum bisa membuat link ke sumber asli, bagi yang ingin mengunjungi Yusuf Mansyur Network silahkan login di Facebook.

Tulisan berjudul: Pengalamanku dalam Berdo’a kepada Allah SWT

“Berita itu benar, silahkan buat surat permintaan. Tulis apa saja yang ingin Anda tulis di dalamnya, jangan lupa sertakan no. telpon Anda, lalu kirimkan surat itu ke alamat ini lewat fax. Dalam satu minggu, akan ada pemberitahuan, jika Anda termasuk yang beruntung, Anda akan segera kami hubungi!”

Saya lekas pulang ke rumah, setiba di rumah, saya menyampaikan kabar baik itu pada istri. “Ini kesempatan baik Umi, semoga saja ada rezki kita di sana”, kata saya pada istri.

“Insya Allah bi, mudah-mudahan ada rezki kita di sana”, “Amin”, balas saya.

Malamnya, saya mulai merancang surat yang akan kami kirim nanti, saya berpikir keras, kira-kira apa kata-kata yang cocok dan menggugah sang Direktur agar proposal yang akan kami ajukan diterima. Apa saja yang harus ditulis dan dicantumkan.

Keesokan harinya, istri saya menelpon temannya tersebut, menanyakan, apakah ada contoh surat yang sudah pernah dikirimkan sebelumnya, temannya itu menjawab ada, istri saya minta tolong agar contoh surat itu dikirimkan via email.

Akhirnya, contoh surat itu saya baca, saya pelajari isinya. Setelah dapat format yang pas, saya mulai menulis surat tersebut. Di pembukaan surat saya memuji Allah dan bershalawat pada Rasulullah. Kemudian mendoakan sang Direktur semoga ia selalu dalam keadaan sehat dan dalam naungan Allah swt dalam pengabdiannya pada Islam dan kaum muslimin.

Saya mulai masuk kepada inti surat, saya menceritakan betapa istri sangat butuh bantuan beliau untuk kelancaran studinya. Dan sebagai penguat surat itu saya cantumkan beberapa data, diantaranya; nama istri, no. paspor, kuliah, tempat tinggal, no. hp dan saya tegaskan bahwa istri tidak dapat beasiswa dari manapun.

Di penutup surat, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian dan bantuan yang diberikan dan semoga Allah menerima dan membalasnya.

Begitulah lebih kurang isi surat itu. Setelah diedit beberapa kali, dan yakin sudah sempurna, saya print dan segera mengirimnya lewat fax dengan harga yang cukup mahal!

Kini, kami hanya menunggu kepastian, sembari berdoa pada Allah agar proposal itu diterima. Dan bertawakal, jika apa yang dinanti tidak sesuai harapan, karena segala sesuatu telah dtentukan oleh Allah ta`ala.

Pengalaman ini, membuat saya berpikir dan mengingatkan saya pada satu hal, meminta pada makhluk Allah saja begitu besar usaha, pengorbanan, dan harapan yang ditumpukan. Sedangkan manusia pada hakekatnya tidak bisa melakukan apapun kecuali dengan izin dan kehendak Allah.

Sebagai seorang hamba, Allah lah yang layak untuk dijadikan tempat mengadu, meminta dan memohon. Ia maha tahu keadaan kita, maha melihat, dan maha memberi. Ia maha kaya, kekayaannya tanpa batas, subhanallah…

Allah sendiri telah berjanji, barangsiapa yang meminta pada-Nya akan Ia kabulkan. Tentunya bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa mematuhi-Nya dan menjalankan semua perintah-Nya.

Saya berfikir betapa banyak keinginan saya, cita-cita, keperluan saya, yang ingin saya minta pada Allah agar Dia menunjukkan jalan, membukakan pintu dan menggerakkan hati-hati hamba-Nya untuk membantu. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah karena Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Bukankah hati setiap makhluk ada dalam genggaman-Nya yang bisa Ia bolak-balikkan dalam sekejap.

Jika Allah berkehendak untuk menolong hamba-Nya, maka pertolongan itu akan tiba, tanpa bisa diduga dari arah mana. Bahkan jika berkumpul segenap makhluk untuk menghalangi kebaikan yang ingin Allah berikan pada hamba-Nya, maka mereka tidaklah sanggup melakukannya, begitu pula jika Allah menghendaki keburukan, wal`iyadzu billahi mindzalik, tak satupun makhluk di jagat raya ini yang sanggup menghalanginya. Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Pengalaman itu telah membuat saya semakin yakin dan bersemangat meminta pada Allah. Saya semakin mendapatkan pelajaran berharga saat itu.

Jika dalam surat itu saya cantumkan tentang data diri, tentu agar permohonan itu diterima. Maka jika kita ingin mengajukan sejumlah daftar permintaan pada Allah, apakah data-data amal soleh kita sudah mencukupi? Seperti; Shalat 5 waktu tepat waktu, melaksanakan amalan sunnah, puasa wajib dan sunah, azkar pagi dan petang, zakat dan sedekah, baca al-Qur`an, menjenguk orang sakit, memaafkan kesalahan orang lain, jujur, dstnya.

Dan segala bentuk amal ibadah lainnya yang Allah sukai. Jika semuanya bernilai A, tentu penerimaan dan terkabulnya doa itu lebih cepat dan mudah, namun bila data-data itu tidak lengkap, banyak yang bolong-bolong, asal-asalan, tidak ikhlas, maka kita harus berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh untuk melayakkan diri agar dikabulkan doa-doa kita.

Setiap orang pasti punya keinginan yang hendak dicapai. Seorang pelajar yang tengah menghadapi ujian berharap sukses, seorang pedagang di pasar berharap jualannya laku, seorang bisnisman berharap dapat keuntungan yang berlimpah, seorang yang tengah dililit hutang yang menggunung berharap hutangnya cepat dilunasi, seorang pemuda yang ingin menikah berharap dapat jodoh sesuai harapan, seorang yang tengah terbaring lemas karena sakit di atas kasur berharap lekas sembuh.

Seorang yang tengah dihimpit berbagai masalah berharap menemukan jalan keluar, seorang ibu yang telah lama merindukan kehadiran buah hati berharap segera hamil, seorang yang tengah menghafal al-Qur`an berharap bisa dengan mudah dan cepat menghafal al-Qur`an, begitulah seterusnya. Semua kita punya harapan dan keinginan masing-masing. Allah mengetahui semua itu, Allah mendengar doa-doa yang kita panjatkan di waktu siang dan malam. Allah maha mendengar segala sesuatu.

Doa adalah inti ibadah. Di dalamnya seorang hamba merendah dan berharap pada Allah yang telah menciptakan dirinya, yang Mahakuasa, dan Maha berkehendak. Ia juga adalah senjata mukmin yang akan melindunginya dari segala bentuk keburukan dan gangguan setan.

Oleh karena itu Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya berdoa pada-Nya. Dan memberi janji bahwa Ia akan mengabulkannya. Allah berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran”. (QS Al-Baqarah: 186)

Para ulama telah menentukan beberapa syarat dan adab yang perlu diperhatikan seorang hamba di saat memohon pada Penciptanya, diantaranya adalah :

1. Hendaklah seorang hamba selalu patuh pada perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, tidak makan-minum kecuali dari yang halal dan beramal soleh.

2. Seorang hamba yang berdoa pada Allah hendaklah berbaik sangka pada Allah, dan yakin sepenuh hati akan terkabulnya doanya. Begitupun dianjurkan untuk bersuci terlebih dahulu, menghadap kiblat, penuh khusyuk, dan sungguh-sungguh, agar doa itu keluar dari hati.

3. Dianjurkan mengangkat kedua tangannya sebatas kedua bahunya. Diriwayatkan dari Salman radhiyallahu `anhu berkata, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian Malu dan Maha Mulia, Dia merasa malu jika seorang hamba-Nya mengangkat kedua tangannya di hadapan-Nya, dan mengembalikan tangan itu dalam keadaan kosong”

4. Dimulai dengan memuji Allah, bershalawat pada Rasulullah saw pada permulaan dan di akhir doa.

5. Berdoa untuk hal-hal yang baik, bukan untuk dosa dan memutuskan tali silaturahmi. Tidak mendoakan keburukan untuk dirinya, anaknya, dan salah satu kerabatnya.

6. Jika seorang hamba berdoa maka janganlah meminta disegerakan terkabulnya doa itu, karena Allah maha tahu hikmah dibalik ditunda terkabulnya doa yang kita panjatkan.

7. Dianjurkan mengulang doa tiga kali, karena Rasulullah saw melakukan hal itu, jika berdoa beliau mengulangnya sampai tiga kali.

Sebagai seorang manusia kita hanya mampu berencana dan berusaha mencapainya dengan penuh kesungguhan sesuai kemampuan kita, dan berdoa tiada henti, penuh harap pada Allah serta dengan segala kerendahan memohon pada-Nya, adapun hasil dan ketentuan akhirnya Allah yang menentukan, Ia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bolah jadi apa yang baik menurut dugaan kita, ternyata tidaklah baik sesungguhnya buat kita dalam ilmu Allah, begitu pula sebaliknya. Allah maha tahu segala sesuatu, ilmunya meliputi segala hal, subhanallah…

marif_assalman@yahoo.com

2 Komentar

Filed under Catatan Pinggir

2 responses to “Pengalamanku dalam Berdo’a kepada Allah SWT

  1. Subhanallah. Posting yang sangat menarik.
    Kalau kita minta, Dia akan memberi. Kalau tidak sekarang, mungkin nanti. Trims sharingnya.

    Salam, Achmad Fauzi dari Surabaya.

    • arpan SIREGAR

      Terima kasihPak Achmad Fauzi, telah berkunjung ke blog ini. Berbagi informasi aja Pak, saya juga dapat dari Blog tetangga. Namun karena isinya menurut saya layak disebarkan, jadi sy posting di sini juga.

      salam buat keluarga
      Wasalamu’alaikum ww.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s