Perencanaan

Uraian tentang pengertian perencanaan dapat ditemui pada banyak buku, baik yang membahas tentang manajemen, bidang administrasi dan kepemimpinan. Perencanaan sebagai suatu teori juga telah muncul di berbagai literatur yang ditulis oleh Faludi (1973), Paris (1982), Alexander (1986, 1993), serta Cambell dan Fainstein (1996). Definisi yang diberikan oleh berbagai pihak tersebut mengartikan perencanaan secara berbeda-beda, namun demikian pengertian yang paling sederhana, perencanaan adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan (Kelly dan Becker, 2000). Sedangkan menurut Kay dan Alder (1999), memberikan pengertian perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Pengertian lain perencanaan adalah :

  1. “perencanaan adalah proses pemilihan dan penetapan tujuan, strategi, metode, anggaran, dan standar (tolok ukur) keberhasilan suatu kegiatan.”
  2. “perencanaan adalah proses memilih sejumlah kegiatan untuk ditetapkan sebagai keputusan tentang suatu pekerjaan yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan siapa yang melakukannya.”
  3. “perencanaan adalah penerapan pengetahuan tepat guna secara sistematik, untuk mengontrol dan mengarahkan kecenderungan perwujudan masa depan yang diinginkan sebagai tujuan yang akan dicapai.”

Sebagian kalangan berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktifitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu, sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam waktu tertentu. Artinya, perencanaan adalah suatu proses menetukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Dengan demikian, proses perencanaan dilakukan dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang ada, mengukur kemampuan (kapasitas) kita untuk mencapainya kemudian memilih arah-arah terbaik serta memilih langkah-langkah untuk mencapainya (Kay dan Alder, 1999).

Mendefinisikan lingkup teori perencanaan ternyata tidak mudah karena sifatnya yang sangat terkait dengan berbagai bidang kajian, sehigga tidak mungkin diekslusifkan sebagai suatu teori atau kajian yang bersifat khusus.

Campbell dan Fainstein (1996), berpendapat setidaknya tiga sumber kesulitan di dalam menjelaskan teori perencanaan :

  1. teori perencanaan muncul bersamaan dengan semua aspek disiplin ilmu sosial sehingga sangat sulit untuk membuat batasan kajian perencanaan.
  2. batasan profesi antara perencana dengan profesi-profesi terkait (real estate developer, arsitek, pemerintah/legislatif, kota/daerah, dan lain-lain) tidaklah jelas. Tidak ada perencana yang hanya melakukan perencanaan, sebaliknya para non-perencana juga melakukan perencanaan.

Bidang perencanaan ada yang dibagi berdasarkan atas objek perencanaan (perencanaan penggunaan lahan, perencanaan transportasi, perencanaan kota, dan lain-lain) dan ada pula yang didasarkan atas metode (cara melakukan keputusan).

Dari berbagai pendapat dan definisi perencanaan yang telah dikembangkan di atas maka terlihat secara umum hampir selalu terdapat dua unsur penting dalam perencanaan, yakni : (1) unsur “hal yang ingin dicapai” dan (2) unsur “cara untuk mencapainya”.

Sumber: Dr. H. Wahyono Hadi Parmono, M.Ed, M.Fr

Tinggalkan komentar

Filed under Sosial Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s