Kebijakan yang Cenderung Menghadapi Masalah dalam Implementasinya

Nugroho (2011), menjelaskan bahwa ada 5 (lima) tepat dalam hal efektifitas implementasi:

  1. Apakah kebijakannya sendiri sudah tepat? Ketepatan kebijakan ini dinilai dari sejauh mana kebijakan yang ada telah bermuatan hal-hal yang memang memecahkan masalah yang hendak dipecahkan;
  2. Tepat pelaksananya, aktor implementasi tidaklah hanya pemerintah.  Ada tiga lembaga yang dapat menjadi pelaksana yaitu pemerintah, kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat/swasta, atau implementasi yang diswastakan (privatization atau contracting out);
  3. Tepat target, apakah target yang diintervensi sesuai dengan yang direncanakan, apakah targetnya siap diintervensi, apakah intervensi implementasi bersifat baru atau memperbaharui implementasi kebijakan sebelumnya;
  4. Tepat lingkungan, ada dua lingkungan yang paling menentukan, yaitu lingkungan kebijakan (interaksi antara lembaga perumus kebijakan dan pelaksana kebijakan dengan lembaga lain yang terkait), lingkungan eksternal kebijakan yang terdiri atas public opinion, interpretive institution dan individuals;
  5. Tepat proses, secara umum implementasi kebijakan publik terdiri atas tiga proses yaitu policy acceptance (publik memahami kebijakan sebagai sebuah aturan main yang diperlukan untuk masa depan, di sisi lain pemerintah memahami kebijakan sebagai tugas yang harus dilaksanakan), policy adoption (publik menerima kebijakan sebagai sebuah aturan main yang diperlukan untuk masa depan, disisi lain pemerintah menerima kebijakan sebagai tugas yang harus dilaksanakan), strategic readiness (publik siap melaksanakan atau menjadi bagian dari kebijakan, di sisi lain birokrat pelaksana siap menjadi pelaksana kebijakan).

Winarno (2011), menjelaskan bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan kebijakan-kebijakan yang cenderung menghadapi masalah mengingat implementasi kebijakan merupakan proses yang kompleks.  Kebijakan juga sering tidak mendapat dukungan yang memadai, bahkan cenderung mendapat tantangan dari kelompok-kelompok kepentingan maupun dari para pelaku kebijakan itu sendiri.  Tipe-tipe kebijakan tersebut adalah;

  1. Kebijakan-kebijakan Baru.  Sifat kebaruan dari tipe kebijakan ini yang membuat kebijakan baru cenderung sukar dilaksanakan karena beberapa alasan seperti saluran-saluran komunikasi yang belum terbangun, tujuan-tujuan yang ditetapkan sering tidak jelas, antara kebijakan dengan petunjuk pelaksanaannya tidak konsisten, kelangkaan sumberdaya, kebijakan tersebut tidak konsisten dengan misi utama badan pelaksana, belum lazim dilakukan, penyesuaian dengan SOP yang lama tidak tepat.
  2. Kebijakan yang Didesentralisasikan. Implementasi yang didedsentralisasikan melibatkan banyak orang.  Semakin banyak organisasi yang dilalui komunikasi, maka semakin banyak pula organisasi yang harus merincinya.  Hal ini akan mendorong timbulnya distorsi.  Jarak yang jauh antara pelaksana dengan perumus kebijakan juga akan mendorong terjadinya kesalahfahaman.  Tipe kebijakan terdesentralisasi memiliki 2 (dua) masalah mendasar yang akan timbul yaitu, persoalan komunikasi dan persoalan pengawasan.
  3. Kebijakan yang Kontroversial Suatu kebijakan yang berasal dari hasil perdebatan seringkali menghasilkan ketentuan-ketentuan yang kabur, karuna kebijakan seperti ini harus mengkompromikan banyak kepentingan yang saling berseberangan.
  4. Kebijakan-kebijakan yang Kompleks. Biasanya mempunyai banyak tujuan, karena kebijakan-kebijakan itu begitu rumit, para pembentuk kebijakan puncak seringkali tidak mengetahui bagaimana menetapkannya secara khusus.
  5. Kebijakan yang berhubungan dengan Krisis.  Krisis-krisis yang terutama melibatkan negara lain, menimbulkan beban khusus dalam pelaksanaan kebijakan.  Dalam kondisi demikian tidak ada waktu untuk membuat saluran-saluran komunikasi yang baru.
  6. Kebijakan yang Ditetapkan oleh Pengadilan Saluran-saluran formal untuk mentransmisikan keputusan-keputusan pengadilan kurang memadai, sedangkan saluran-saluran informal sangat kurang dapat dipercaya.

Sumber: Nugroho, 2011 dan Winarno, 2011

Tinggalkan komentar

Filed under Sosial Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s