Konsumsi Makanan Olahan di Indonesia Meningkat 41%

Jakarta – Indonesia memiliki keanekaragaman pangan. Mulai dari makanan yang mengandung karbohidrat, protein dan nutrisi lainnya. Tak hanya makanan segar, hasil olahannya juga bekualitas baik dan mampu bersaing dengan pasar dunia.

Indonesia merupakan negara ketiga yang kaya akan bahan pangan. Bahkan sebanyak 51% bahan pangan yang dibutuhkan negara ASEAN berada di Indonesia. Karena itu ragam masakan Indonesiapun sudah tersebar ke negara ASEAN.

Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, sangat berpotensi untuk menjadi target pasar bagi produk makanan dan minuman olahan di dunia terutama Asia Tenggara. Selama lima tahun terakhir pertumbuhan konsumsi makanan olahan meningkat hingga 41%.

Saat ini, Indonesia sedang mengalami peningkatan ekspor makanan olahan yang mencapai 10.7% dengan nilai US$ 1,67 Miliar atau sekitar Rp. 15 Triliun. Namun hasil ekspor ini tidak menutup kemungkinan dengan adanya impor makanan olahan yang mencapai US$ 1,73 atau sekitar Rp. 15,57 Triliun.

Makanan olahan yang di Impor ke Indonesia kebanyakan berasal dari Thailand, China, Vietnam, Korea, Jepang, Taiwan dan Philipina. Meskipun begitu, peluang pasar makanan olahan dalam negeri masih terbuka lebar.

Hal ini bisa saja dilakukan jika kebijakan pangan nasional mampu memberikan jaminan ruang berusaha untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Agar pengusaha kecil dapat meningkatkan produktivitas dan profesionalitas dalam menghasilkan produk dalam negeri.

“Sebenarnya saat harga pangan di Indonesia sedang menurun, harga jual bisa dinaikkan kembali. Dengan cara membuat hasil olahan makanan yang menarik, bernutrisi dan aman. Saat itulah para petani yang memiliki kasta tertinggi dalam makanan bisa terus menjual hasil pertaniannya.” jelas Helianti Hilman, CEO Javara PT. Kampoeng Kearifan Indonesia, saat mengisi acara Diskusi “Ragam Pangan dan Makanan Indonesia, Untuk Siapa?” siang tadi.

Kebanyakan makanan olahan diperkenalkan pada generasi muda. Bisa dilihat dari meningkatnya jumlah restoran cepat saji yang berhasil mengalahkan restoran lokal. Saat inilah, banyak juga generasi muda yang tidak sadar dengan jenis makanan yang aman guna menunjang kesehatannya.

Bapak Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, Director SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut mengatakan, “ Untuk menunjang kesehatan, menu yang beragam berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi. Saat inilah generasi muda perlu memperhatikan berbagai jenis makanan olahan yang dikonsumsi. Bisa dengan meilhat label makanan dahulu dan memperhatikan jenisnya.”

Banyaknya makanan olahan berbahan alami di Indonesia bisa menjadi pilihan tepat bagi mereka yang tak mau repot untuk membuat makanan. Selain menyehatkan juga bisa membantu meningkatkan promosi pangan lokal ke pasar dunia.

http://food.detik.com/read/2012/11/08/181336/2086410/294/konsumsi-makanan-olahan-di-indonesia-meningkat-41
(odi/dyh)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Perikanan, Keamanan Pangan, Teknologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s