Penyusutan Hasil Tangkapan (fish losses)

Fish losses (susut hasil) perikanan adalah keseluruhan nilai kerugian pasca panen hasil perikanan akibat terjadinya kerusakan fisik dan kemunduran mutu yang terjadi mulai saat ikan ditangkap sampai ke tangan konsumen. Menurut Ward dan Jeffries (2000), susut hasil menerangkan periode waktu ketika ikan terpisah dari media hidupnya.
Susut hasil terdiri dari beberapa beberapa jenis yaitu susut fisik (physical losses), susut mutu (quality losses), susut harga (market losses).

Susut fisik (Physical losses)
Physical losses (susut fisik) merupakan jumlah/berat ikan yang hilang atau terbuang. Penyusutan fisik ikan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kerusakan ikan, diserang serangga, dimakan hewan, kelebihan persedian dan tidak adanya pembeli sehingga ikan terbuang, dicuri dan ikan dibuang akibat penangkapan (Ward dan Jeffries, 2000).

Susut mutu (Quality losses)
Quality losses (susut mutu) merupakan selisih nilai mutu ikan yang terbaik dan terendah. Semua proses akhirnya mengarah ke pembusukan. Urutan proses perubahan yang terjadi pada ikan meliputi perubahan prarigormortis, rigormortis, aktivitas enzim, aktivitas mikroba, dan oksidasi. Perubahan prarigormortis merupakan peristiwa terlepasnya lendir dari kelenjar di bawah kulit. Lendir yang dikeluarkan ini sebagian besar terdiri dari glukoprotein dan musin yang merupakan media ideal bagi pertumbuhan bakteri. Perubahan rigormortis merupakan akibat dari suatu serangkaian perubahan kimia yang kompleks di dalam otot ikan sesudah kematiannya. Setelah ikan mati, sirkulasi darah berhenti dan suplai oksigen berkurang sehingga terjadi perubahan glikogen menjadi asam laktat (Junianto, 2003).

Menurut Ward dan Jeffries (2000), ikan yang rusak akan terjual dengan harga yang rendah karena mutunya telah turun. Ikan yang telah rusak tidak dijual seharga ikan segar akan tetapi dijual pada pasar yang berbeda atau dijual untuk tujuan lain. Tabel 3 menunjukkan mengapa dan dimana susut fisik dan susut mutu dapat terjadi dalam sistem distribusi ikan.

Tahap distribusi/Sebab susut
Penangkapan
Ikan jatuh ke air dari jaring selama pengangkatan jaring
Penanganan yang mengakibatkan memar
Ikan terlalu lama di dalam jaring dan rusak
Tidak adanya pendinginan di atas kapal berarti suhu ikan naik akibat kontak dengan suhu lingkungan dalam waktu lama
Pendaratan
Ikan jatuh dari kontainer selama pembongkaran dan transportasi ke pantai
Terjadi kerusakan pada ikan ketika dibawa ke darat tanpa pengesan
Pengolahan
Rendahnya kapasitas untuk menyerap pendaratan
Kondisi cuaca yang buruk membuat pengeringan sulit
Pengerumunan serangga
Transportasi
Kerusakan mekanik pada ikan
Keterlambatan
Penyimpanan
Kurangnya kapasitas penyimpanan sehingga ikan rusak
Pengerumunan serangga
Pemasaran
Pengerumunan serangga
Persediaan dan permintaan

Menurut Ward dan Jeffries (2000), ikan yang rusak akan terjual dengan harga yang rendah karena mutunya telah turun. Ikan yang telah rusak tidak dijual seharga ikan segar akan tetapi dijual pada pasar yang berbeda atau dijual untuk tujuan lain. Tabel 3 menunjukkan mengapa dan dimana susut fisik dan susut mutu dapat terjadi dalam sistem distribusi ikan.

Tumpukan ikan dan es ini tidak boleh lebih dari 50 cm. Jika lebih, ikan yang di bagian bawah akan mengalami tekanan dari ikan di atasnya, sehingga rusak atau beratnya berkurang. (Murniyati dan Sunarman, 2000).

Susut harga jual (Market force losses)
Market force losses (susut harga) merupakan susut ikan yang paling sulit diukur. Susut harga dapat dipengaruhi oleh supply/demand/musim dan sebagainya. Mutu tidak sepenuhnya mempengaruhi harga ikan. Ketika musim panen datang maka ikan dengan mutu I akan memiliki harga yang murah. Namun pada saat musim paceklik ikan dengan mutu rendah akan menjadi mahal.

Penyusutan dapat saja terjadi pada saat penangkapan, seperti ikan terjatuh dari jaring dan kembali ke laut atau penanganan yang menyebabkan luka memar pada ikan. Pada saat pendaratan tidak menggunakan es sehingga ikan menjadi rusak, dalam pengolahan terjadi serangan serangga, transportasi yang lama sehingga terjadi keterlambatan bahan baku (Ward dan Jeffries, 2000).

Menurut Ward dan Jeffries (2000), formula untuk menghitung susut hasil adalah sebagai berikut:

Total susut hasil
Susut fisik
{[Bt-Bt+1]/Bt} x 100%

Susut mutu
{(BtHt)-(BfHf + BrHr)/BtHt} x 100%

Keterangan :
Bt : Total Berat Ikan (kg)
Ht : Harga Ikan (Rp)
Bf : Berat ikan fresh (kg)
Hf : Harga ikan fresh (Rp)
Br : Berat ikan reject (kg)
Hr : Harga ikan reject (Rp)
t : Tahapan Rantai Distribusi Ikan

Tinggalkan komentar

Filed under Berita Perikanan, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s